Sabtu, 17 Desember 2016


ANDAI MASIH, HARI INI DIA 23 TAHUN.

Alm. Kukuh Bayu Pamungkas 2010, satu-satunya sisa foto di laptop :)
           Saya melihatnya pertama kali saat kami sedang melewati seleksi tes kesehatan sebagai syarat masuk di SMA. Sebelumnya kami tidak saling mengenal karena memang berbeda sekolah. Tanpa mencoba menyapa dulu, dia bersama seorang teman lelakinya mendekati saya yang sedang duduk santai bersama teman satu identitas. Dengan gayanya yang sok kenal dia memberitahu kami bahwa didalam ruangan nanti jari kami akan ditusuk dan rasanya sangat sakit. Saya memarahinya setelah salah satu dari kami tiba-tiba menangis karena ternyata memiliki riwayat rauma dengan jarum. Kami berpindah posisi dan meninggalkannya dengan muka yang sangat masam.

Singkat cerita, ternyata kami dipertemukan kembali sebagai teman satu kelas di X-C dan semua kisah tentang kami dimulai sejak hari pertama bersekolah di SMA. Saat itu umur saya masih 14 tahun dan umurnya belum genap 17 tahun. Layaknya remaja pada umumnya, kami bertransformasi bersama mulai dari bermusuhan, menjadi teman biasa, bersahabat dan berlanjut sebagai cinta monyet yang saat ini lebih dikenal dengan istilah pacaran.

Bagaimanapun, saya pernah melewati masa ABG yang bisa diopinikan sebagai “remaja yang keliru” tapi bisa jadi ada benarnya juga. Meski demikian, sampai saat ini saya tidak pernah menyesal pernah melewati masa tersebut, yang dapat saya lakukan sekarang adalah berusaha belajar dari kesalahan dan memperbaikinya, terutama dalam hal manajeman waktu. Dulu saya begitu terlena belajar kehidupan dengannya yang memang secara pemikiran lebih dewasa pada beberapa hal, hampir setiap hari kami menghabiskan waktu bersama di sekolah dan sangat menyita waktu bersama teman-teman yang lain, sepulang sekolah kami sudah mulai berkelana kemanapun, paling sering kami memilih untuk mengunjungi sebuah pabrik milik ayahnya, berinteraksi dengan masyarakat dan berbagi pengalaman hidup.
Sebagai manusia normal, memang tidak semua hal yang kami lakukan baik, bahkan sifat umum remaja yang ingin selalu mencoba hal-hal baru juga sempat kami lakukan, contohnya seperti tidak mengerjakan tugas, sengaja datang sekolah terlambat dan dihukum guru kelas, sesekali bolos ekstrakulikuler dan beberapa kejadian kecil-kecil lainnya di sekolah yang belum pernah saya lakukan selama SD dan SMP. Namun yang menarik adalah hampir pada setiap kali melakukan kesalahan dia mencoba menjelaskan kepada saya alasan mengapa bertindak hal tersebut dan hikmah apa yang dapat diambil, dan pada akhirnya saya belajar.

Hidup diluar aturan memang terkadang lebih asik, sayangnya dulu saya belum begitu cerdik mengendalikan diri. Seringkali kami akhirnya mengabaikan pelajaran di sekolah dan hal ini membuat nilai saya turun di semester 2. Saat raport dibagikan, saya hanya memperoleh peringkat ke-2 dan inilah puncak kemarahan orangtua karena menganggap saya tidak cukup dewasa untuk membagi waktu. Sebagai seorang anak yang memang masih menjadi tanggungjawab keluarga, akhirnya saya menuruti keinginan mereka dan dengan berat hati memutuskan untuk tidak melanjutkan petualangan yang sudah berjalan selama 2 semester. Kami naik kelas dan akhirnya fokus dengan jurusan masing-masing sesuai pilihan. Dia melanjutkan perjuangan hidup dengan oranglain sedangkan saya memilih fokus dengan akademik dan berproses bersama teman-teman yang ternyata selama satu tahun sempat saya abaikan.

Lika-likunya panjang, cerita lengkapnya sudah saya tuangkan dalam sebuah novel berjudul “Kisah Kita” yang saya tulis selama 5 bulan mulai dari pasca perpisahan kami, mirisnya adalah ternyata novel itu menjadi kado terakhir dari saya di ulangtahunnya yang ke-18 tepat 5 tahun yang lalu pada tanggal 18 Desember 2011. Saat pertemuan kami yang terakhir, dengan wajah sumringah dia berjanji kepada saya akan membacanya sampai selesai. Namun beberapa hari setalah itu sakitnya kambuh dan koma di rumah sakit. Novel itu akhirnya hanya sempat dibaca oleh kakak kandungnya karena dia sudah dipanggil ke Surga di saat puncak komanya hari ke 10 tepat tanggal 1 Januari 2012 pukul 14.30 WIB. Perasaan sedih mendalam sudah pasti, namun mengikhlaskan adalah jalan terbaik yang saya pilih, Allah lebih menyayanginya.

Jika saat ini menurut orang tua hidup saya sudah jauh lebih baik, bagi saya salah satu orang yang berpengaruh besar adalah dia. Sebagai sosok yang sangat dekat dengan saya pertama kali, dia mampu mengajarkan banyak hal, baik dan buruk, serta menegaskan kepada saya bahwa setiap orang harus bertanggungjawab penuh terhadap apapun yang sudah dia pilih. Dan saat ini saya menyadari bahwa menjadi bidan adalah pilihan yang saya ambil dan harus saya pertanggungjawabkan secara utuh. Tak hanya itu, banyak sekali hikmah-hikmah kehidupan lain yang pernah dia tanamkan selama kami berproses bersama.

Mungkin saya pernah belajar banyak hal dengan memiliki teman laki-laki yang dengannya kami pernah membangun impian-impian bersama. Namun saya juga belajar bahwa tugas saya saat ini bukanlah membangun impian dengan satu orang saja, tetapi dengan beratus ribu oranglain yang dengan mereka ternyata saya mampu mewujudkan impian-impian yang jauh lebih besar. (Ini hanya opini saya saja).

Kepada teman dan adik-adik yang masih dalam masa ABG, saat ini saya hanya  berpesan untuk berhati-hati dengan waktu, semaksimal mungkin dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, jika ingin coba-coba, cobalah hal-hal positif yang menggugah keinginan untuk terus belajar, kembangkan bakat dan kemampuan. Jika teman-teman yang lain merasa menjadi anak 'gaul' dengan urak-urakan dalam permainan geng motor, keluar malam-malam untuk berduaan dengan lawan jenis, atau menghabiskan banyak waktu untuk melakukan hal yang seharusnya tidak menjadi prioritas, cobalah memantapkan hati untuk memilih berlabel "gaul" dengan jalan yang lain, salah satunya dengan mengembangkan potensi dan berprestasi, InsyaAllah pilihan ini akan sangat bermanfaat ketika sudah dewasa nanti.
Bertransformasi dan berpetualang boleh, bahkan menurut ibu saya itu sangat penting, jangan sampai hidup kita hanya berkutat dengan belajar dan mengejar nilai akademik tanpa mampu berinteraksi baik dengan masayarakat, karena setinggi apapun jabatan nantinya, kita akan tetap kembali kepada masyarakat. Sebagai bekal, hal yang harus digarisbawahi  adalah bagaimana kita pandai memilih lingkungan yang benar serta pandai memilih oranglain untuk dijadikan sahabat, karena merekalah yang akan sangat memberi pengaruh dalam hidup kita. Yang terpenting jauh sebelum itu adalah komunikasi yang baik dengan orangtua dan guru, tidak perlu ada yang ditutup-tutupi, biasakan untuk terbuka dan bercerita jujur karena InsyaAllah orangtua paling memahami langkah terbaik bagi kita. Saya hanya salah satu orang beruntung yang bertemu dengan guru-guru luar biasa yang tidak pernah lelah mengingatkan saya. Sehingga saya sedikit menyadari bagaimana harus bertindak, meskipun tetap belum menjadi anak yang penurut sampai pada kesadaran itu benar-benar muncul dari diri sendiri. "Kenali dan berdamailah dengan diri, sukses akan mengikuti langkahmu", begitu kata salah seorang juri duta santri nasional kemarin.

Terkait dengan cinta monyet yang pernah saya alami, saya jadikan itu sebagai pembelajaran bagi hidup saya dan untuk anak-anak saya nanti. Mungkin sekarang saya sudah mulai paham bahwa pacaran itu tidak boleh, terutama dari kacamata ajaran agama islam, namun saya berusaha semaksimal mungkin cukup mencoba mengarahkan dan memberitahu, tanpa menjudge bahwa seseorang yang pacaran memiliki dosa yang besar, karena sungguh itu menjadi hak mutlak Allah swt sebagai sang Maha Pengatur. Saya yakin setiap orang mampu mempertanggungjawabkan dengan utuh setiap apa yang dia pilih. Saat menulis ini saya mencoba berkaca didepan cermin, semoga menjadi nasihat bagi diri sendiri. Tanpa menjadi terpuruk ketika mengingat masa-masa yang telah terlewati, saya sadar bahhwa setiap orang memiliki masalalu masing-masing, baik ataupun buruk, yang terpenting adalah bagaimana hari ini bisa lebih baik dari hari kemarin dengan cara kita sendiri.

Dan untukmu, Almarhum Kukuh Bayu Pamungkas. 6tahun sejak awal perkenalan kita telah berlalu dan jejak-jejak hikmah itu masih terus ada. Terima kasih pernah mengajarkan banyak hal tentang hidup, semua hal yang pernah terlewati bersama membuatku ingin menjadikan hidup ini bermakna bagi orang-orang disekitar seperti yang selalu kamu lakukan. Terima kasih telah menjadi sosok inspiratif bagiku untuk berdakwah dan belajar agama lebih dan lebih giat lagi, menyadari betul bahwa Allah dapat mengambil nyawa manusia kapanpun dan dengan cara apapun. Semoga kamu bahagia di Surga dalam pelukan-Nya. Aamiin
Yogyakarta, 18 Desember 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar